Blogroll

Hidup kita ibarat Kopi (Filosofi Kopi)

Sahabat Kepala Sekolah,
Selera tiap orang dalam menikmati kopi berbeda-beda. Apakah itu kopi hitam, kopi ijo, kopi susu, coffee latte, capuccino, kopi tubruk, dan lain-lain. Ada juga penikmat kopi panas ataupun dingin, kopi pahit atau manis. Semua tergantung selera masing-masing. Yang pasti, pada dasarnya kopi memiliki aroma dan rasa yang khas, tidak terpengaruh oleh cangkir atau gelasnya.

Saat browsing, saya sempat membaca artikel tentang kopi di sebuah blog. Di artikel itu si penulis bercerita mengenai filosofi kopi. Ketika orang-orang dipersilakan untuk memilih cangkir kopi yang akan mereka gunakan, mereka cenderung memilih cangkir yang bagus. Sementara yang tersisa adalah cangkir yang murahan dan tidak menarik. Memilih hal yang terbaik adalah hal yang wajar dan manusiawi. Persoalannya, ketika tidak mendapat cangkir yang bagus maka perasaan akan terganggu. Secara otomatis kita akan membandingkan cangkir yang kita pegang dengan cangkir orang lain. Pikiran terfokus pada cangkir, padahal yang kita minum adalah kopinya.

“Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya. Hidup kita seperti kopi. Cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta yang kita miliki”


Kita terlalu sibuk melihat “cangkir” orang lain, padahal kita sedang meminum “kopi” yang sama. Kualitas hidup seharusnya bukan berdasakan seberapa tinggi jabatan dan seberapa banyak harta yang kita miliki. Selama bisa mensyukuri apa yang kita miliki, tidak akan pernah ada kata kekurangan.

Salam damai :)

TEH TELUR DAN INSTRUKSI

Selamat Pagi Sahabat Kepala Sekolah..
Mengawali pagi di depan laptop, akan sangat indah bila ditemani segelas teh telor atau kopi. Diruang kerja yang nyaman dengan tata cahaya yang baik dapat meminimalisir bahaya kerja (bahasa kerennya keselamatan kerja) atau gangguan terhadap mata kita. Dan tentunya ini bukan topik utama bahasan kita sahabat.
Seperti biasa, setiap pagi saya selalu memesan segelas teh telor di kantin via telepon. Tanpa menunggu waktu lama, pesanan akan datang tentu saja sesuai dengan instruksi yang saya berikan. Hal ini dikarenakan instruksi yang diberikan sesuai dengan kaidah-kaidah instruksi, yakni harus benar, jelas, dimengerti dan bisa dilakukan oleh penerima instruksi.
Apabila perintah kaidah-kaidah tersebut tidak kita ikuti, alamat apa yang kita inginkan bisa berbeda dengan kenyataan. Jadi, jangan heran bila orang penerima instruksi enggan melaksanakan perintah kita, bisa saja itu pertanda instruksi kita tidak efektif. Cobalah untuk koreksi diri.
Bicara tentang efektivitas, tentu sangat erat kaitannya dengan dampak apa saja yang ditimbulkan akibat kesalahan pemberi instruksi. Bayangkan saja, bila kita hanya memesan teh telur kepada orang yang tidak memahami dengan jelas perintah kita. Kenyataannya yang kita terima bisa saja berupa : "Air teh yang diberikan telur rebus, telur mentah, atau telur mata sapi."
Teori Efektivitas dan efisiensi manapun pada kasus di atas, akan bergesekan dengan waktu, tenaga dan biaya yang telah dikeluarkan. Bila ditinjau dari sisi psikologi, dampak yang terjadi bisa lebih berat lagi, yakni pemberontakan seperti "Pengabaian terhadap pemberi instruksi dan/atau instruksi-instruksi lainnya tidak mau lagi dilakukan oleh penerima instruksi." Ini disebabkan seolah-olah penerima instruksi adalah orang bodoh atau orang yang tidak punya kemampuan.
Oleh karenanya, agar sebuah instruksi dapat diterima dengan baik, efektif dan efisien, ada baiknya pemberi instruksi memperhatikan : "Pengetahuan, kemampuan dan pengalaman" si penerima instruksi. Di samping memberikan kalimat instruksi yang "Singkat/Mudah, Jelas, Tegas, disertai konsep yang matang dan ada batas waktunya."
Pengetahuan, kemampuan dan pengalaman penerima instruksi sangat berpengaruh dalam menciptakan teh telur yang memiliki cita rasa tinggi. Yakni bagaimana penerima instruksi baik secara personal, maupun berkelompok, mampu meramu, meracik, dan menyajikan Teh Telur yang bisa dinikmati dan menjadi ikon kebanggaan setiap orang yang pernah menikmatinya dan membuat pemberi instruksi akan selalu memiliki ketergantungan untuk menikmati teh telur penerima instruksi setiap paginya.
Ah... Apapun itu, instruksi, pesanan, perintah, titah, sabda dan firman sekalipun tetap saja teh telur sudah di depan mata.
Tambuah Teh Talua ciek lai, Da....

Nekat Lamar Putri Ulama Besar Saudi, Mahasiswa Ini Tercengang Saat Mendengar Jawaban Ulama Tersebut

Dalam kajiannya di Al Qashim, Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin, seorang ulama besar negeri Arab yang terkenal, pernah didatangi seorang pemuda bernama Khalid yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa.
Setelahnya dari majelis muhadharah tersebut, beliau menghampiri Syaikh ‘Utsaimin yang hendak pulang ke rumah. Syaikh ‘Utsaimin selalu berjalan kaki dari rumah ke tempat kajian begitu pula sebaliknya. Di tengah jalan pemuda itu nekat memberanikan diri untuk bertanya, “Syaikh, apakah Anda mempunyai anak perempuan?”
Ketika mendengar pertanyaan pemuda tersebut, Syaikh ‘Utsaimin berubah mimik mukanya dan bertanya, “Ada apa akhi?”
Pemuda itu menjawab, “Kalau ada, saya berniat meminangnya, bolehkah saya meminangnya?”
Lalu apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin? Apakah beliau bertanya usaha bapak kamu apa? Kamu sudah hafal hadits berapa? Sebelumnya kamu lulusan apa? Gaji kamu berapa? Tabungan kamu berapa? Bahkan Syaikh ‘Utsaimin tidak memberikan sebuah pertanyaan apapun kepada pemuda ini, Syaikh ‘Utsaimin hanya berkata, “Tunggulah kabar dariku, In sya Allah akan aku telepon…”

Lalu dalam hari-hari penantian kabar tersebut, pemuda ini mengalami kegelisahan juga, satu hari berlalu, dua hari berlalu, hingga sepekan berlalu. Ia bertanya dalam hati, “Apakah Syaikh lupa ya, perlukah saya mengingatkannya?”
Namun, pemuda ini teringat perkataan Syaikh yang menyuruhnya menunggu. Hingga akhirnya sebulan setelah peristiwa itu ada telepon yang dialamatkan ke asrama. Namun kebetulan pemuda itu sedang kuliah.
Akhirnya dari pihak asrama menyampaikan ke pemuda ini bahwa beliau dicari oleh Syaikh ‘Utsaimin. Dalam hati dia bertanya, “Kenapa ya Syaikh ‘Utsaimin mencariku?”
Ternyata pemuda ini sudah agak pesimis dan bahkan agak melupakan tentang permintaannya.
Ketika beliau melepon Syaikh ‘Utsaimin, beliau bertanya, “Ada apa Syaikh?”
“Aku ingin melanjutkan pembicaraan kita waktu itu akhi?”
“Pembicaraan yang mana, Syaikh?”
“Pembicaraan ketika kamu menyusul saya di jalan. Akhi, silahkan kamu lanjutkan prosesnya..”
Pemuda itupun terkejut, ternyata Syaikh ‘Utsaimin masih mengingatnya dan beliaupun akhirnya membalas pernyataan Syaikh ‘Utsaimin dengan terbata-bata, “Syaikh, perkenankan saya mengabari orang tua saya terlebih dahulu untuk kelanjutannya…”
“Silahkan akhi, saya tunggu kedatangan kalian…”
Ternyata pemuda yang bermodal nekat ini juga belum memberitahukan orangtuanya kalau beliau hendak melamar anak Syaikh ‘Utsaimin.
Pertanyaannya adalah apa yang dilakukan Syaikh ‘Utsaimin selama satu bulan tersebut? Inilah adab ‘ulama yang harus dicontoh oleh wali seorang anak perempuan…
Syaikh ‘Utsaimin ternyata menyelidiki sendiri tentang pemuda ini, dari pergaulannya, bagaimana di mata teman-temannya, di mata gurunya, bagaimana keseriusan dalam belajarnya, prestasinya di kampus, latar belakang keluarganya. Itu beliau lakukan sendiri! Bukannya langsung ditanyakan kepada pemuda itu di tempat itu dan saat itu juga. Dan akhirnya setelah mengetahuinya dengan jelas, barulah beliau memutuskannya setelah bermusyawarah dengan keluarga beliau.
Pemuda ini adalah pria pada foto di atas, ia adalah Syaikh Dr. Khalid Al Mushlih yang saat ini menjadi salah satu ulama yang dikenal di negeri Arab. 
Sumber: Cahayamuslim | Editor : Arham | Headlineislam.com

Popular Posts

Pendidikan Sepanjang Hayat

Eksistensi manusia memerlukan sebuah proses untuk mencapai tujuannya dengan sebuah media yang disebut pendidikan. Manusia dianjurkan menuntut ilmu yang berguna sepanjang hayatnya, karena derajat orang berilmu sedikit lebih tinggi dari pada orang-orang beriman. Akan lebih baik jika keduanya ada digenggamanmu. Muara Tebo, 19 Maret 2016